Rabu, 18 Mei 2016

MAKARYO MINO



Makaryo Mino merupakan sebuah kelompok budidaya ikan lele yang dikelola oleh masyarakat Tegallurung. Nama Makaryo Mino sendiri artinya kerja dalam perikanan yang dimana menggambarkan bahwa anggota kelompok budidaya tersebut bekerja keras untuk dapat mengembangkan budidaya lele untuk terus maju dan sukses. Makaryo Mino terbentuk sejak tahun 2012 diketuai oleh Pak Sumeh dengan jumlah anggota sebanyak 30 orang. Kelompok sudah memiliki kolam lele sebanyak 100 kolam tanah dengan jenis lele yang dibudidaya adalah sangkuriang.
Dalam seminggu, panen lele dapat dilakukan sebanyak 2 sampai 3 kali dengan sekali panen dapat menjaring lele sebanyak 4-5 kwintal, sangat banyak sekali dan budidaya tersebut terbilang sukses. Kelompok mematok harga untuk dapat dijual ke pengepul ikan lele yaitu sebesar 16.000 rupiah perkilogram, berarti tiap panen, anggota dapat menghasilkan omset minimal 5.000.000 rupiah tergantung kondisi normal atau tidaknya. Dikatakan normal ialah saat pertumbuhan lele cepat dan bagus, yaitu saat musim penghujan tiba, karena keadaan air yang stabil.
Masa tumbuh lele dari bibit hingga siap dipanen sekitar 3-4 bulan dan itu juga dipisah perukurannya, karena akan berpengaruh pada jumlah lele perkilogramnya. Untuk pakan lele sendiri, kelompok memaksimalkannya dengan membeli dari pusat pakan lele terbaik yaitu dari Wonokoyo, Jawa Timur dan juga dari Fast Malindo, Jakarta. Karena prinsipnya, dengan pakan lele yang baik, akan menghasilkan lele yang berkualitas pula. 
Bibit lele yang dikelola oleh anggota dibeli dari Muntilan, perbatasan Magelang – Yogyakarta dengan tebaran perkolamnya sebanyak 5.000 bibit per 2 minggu, jadi 2 minggu sekali, anggota menebar bibit lele sebanyak 60.000 bibit. Pemasaran dan distribusi penjualan lele tersebut sudah sampai pada wilayah Yogyakata secara keseluruhan, dan anggota melayani pembelian dalam partai besar yaitu minimal 2 kwintal lele.
Potensi yang menjanjikan tersebut diharapkan akan semakin besar dan semakin mensejahterakan anggota kelompok, agar Makaryo Mino dapat tumbuh menjadi pusat budidaya ikan lele terbesar di Yogyakarta dengan kualitas lele terbaik.

CONTACT PERSON
087839933338 (Pak Sumeh)

MUDO BUDOYO




Mudo Budoyo merupakan nama dari Paguyuban Kesenian Reog yang dibentuk oleh pemuda-pemudi Tegallurung. Mudo Budoyo tersebut terbentuk sejak tahun 2013 yang diketuai oleh Sunaryo. Mudo Budoyo berdiri bertujuan untuk meningkatkan kesenian budaya yang ada di Tegallurung, juga untuk membangkitkan semangat pemuda-pemudi untuk terus mencintai kebudayaan lokal dengan mengembangkan kesenian reog ini bukan hanya sekedar sekumpulan orang yang berlatih untuk menarikan tari wayang orang saja, tetapi membawanya sampai kepada pentas Nasional yang dapat membawa nama Tegallurung sebagai dusun yang produktif dalam mencetak generasi muda yang kreatif, cinta budaya, dan semangat dalam bidang yang positif 

Mudo Budoyo memiliki Struktur Organisasi yang lengkap dengan jumlah anggota mencapai 50 orang termasuk penari, pemusik, keamanan, dan divisi lainnya. Berikut struktur pengurus Mudo Budoyo :
Penasehat :
1.      Bpk Supriyanto (Dukuh Tegallurung)
2.      Bpk Suhartono (Anggota BPD Gilangharjo)

Ketua :
1.      Sunaryo
2.      Surajiman

Sekretaris:
1.      Tri Muslimin
2.      Ginanjar Wisnu Pratama

Bendahara :
1.      Yusuf Prasetyo
2.      Cahyo Febriyanto




SEKSI – SEKSI
SEI HUMAS :
1.      Damar
2.      Supri
3.      Slamet

SEI USAHA :
1.      Heri Sutrisno
2.      Maryono
3.      Suratin
4.      Samijan

SEI PERLENGKAPAN & KESENIAN :
1.      Joko Suyatno
2.      Untung
3.      Winaryono

SEI KEMAKMURAN :
1.      Ibu Purwanti
2.      Ibu Daryati
3.      Ibu Bety Firmansah

SEI KEAMANAN :
1.      Supardiyanto
2.      Basuki
3.      Sawabi
4.      Iswanto

SEI P3K :
1.      Giyono
2.      Winaryono
3.      Rohmad

SEI PUBLIKASI :
1.      Irfan
2.      Taufiq

SEI PEMBANTU UMUM :
1.      Tri Maryanto
2.      Hartono
3.      Mulyadi
4.      Subardi
5.      Rahudomo
6.      Agus T
7.      Setiawan
8.      Suparno








Selama kurun waktu 3 tahun sejak dibentuk, Mudo Budoyo sudah melaksanakan pentas sebanyak 2 kali, saat proklamasi 17 Agustus pada tahun 2014 dan yang kedua saat sumpah pemuda pada tanggal 28 November 2015. Pentas reog dilakukan di lapangan Volly Tegallurung yang sudah digarap sedemikian rupa agar luas dan nyaman digunakan saat latian bahkan mentas. Latihan oleh pemain dan pemusik dilakukan di lapangan volley atau balai makam saat malam hari, latihan rutin dilakukan 1 minggu sekali, namun saat mendekati hari pementasan, latihan akan diperketat menjadi 3 kali dalam seminggu. Pelatih yang digunakan untuk melatih para penari dan pemusik pun tidak main-main, Mudo Budoyo memiliki pelatih dari pakar kesenian kreatif yang sangat profesional yaitu Bapak Suyoto dan istrinya Mbak Ari yang mengajarkan reog dari sisi kreatif dan beda dari reog biasanya.
Potensi Muda-Mudi Tegallurung tersebut diharapkan tetap lestari dan terus berkembang di antara derasnya era digital 2.0 yang dapat membentengi pemuda-pemudi untuk berhenti mengembangkan kesenian lokal reog. Generasi muda Tegallurung siap untuk menjadi pionir generasi muda yang cinta budaya.